MODEL-MODEL MANAJEMEN PEMBELAJARAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

 

MODEL-MODEL MANAJEMEN PEMBELAJARAN DI LEMBAGA  PENDIDIKAN ISLAM 



PENDAHULUAN 

Pendidikan merupakan ujung tombak dalam mempersiapkan generasi yang  bagus, karena Pendidikan akan memaksimalkan potensi peserta didik yang mana  melalui Pendidikan potensi siswa akan terus digali sedemikian rupa agar menjadi  insan yang handal agar dapat bersikap kritis, inovatif dalam menghadapi setiap  permasalahan yang akan dihadapinya. Dalam melanjutkan tujuan Pendidikan menjadi  sangat penting dalam kehidupan kita sebagaimana lembaga Pendidikan yang  bermutu menjadi perhatian utama banyak orang. Mereka menganggap jika lembaga  Pendidikan yang berkualitas akan banyak dibutuhkan dan menjadi peluang di tengah tengah kehidupan masyarakat yang semakin maju. 

Menurut Chotimah, C., & Fathurrohman, M., (2014) mengatakan agar mutu  Pendidikan dapat dicapai maka lembaga Pendidikan harus mampu mengoptimalkan  fungsi serta peran sumber daya Pendidikan baik SDM maupun sarana dan prasarana  yang dimiliki. Menurut abuddin nata, cita-cita besar yang ingin dicapai melalui  Pendidikan islam adalah menjadikan ajaran islam sebagai landasan yang kuat dalam  segala sendi kehidupan (Nata, 2010).  

Namun saat ini dunia Pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi  harapan masyarakat yang mana ditandai dari mutu lulusan, penyelesaian masalah  Pendidikan yang tidak sampai tuntas, bahkan lebih berorientasi proyek. Akibatnya  sering kali hasil Pendidikan mengecewakan masyarakat.  

Dalam paper ini, penulis akan membahas beberapa model manajemen yang telah  dipraktekkan dalam lembaga pendidikan, antara lain: Manajemen Klasik (Ilmiah), Manajemen Sistem Organisasi, Manajemen Hubungan antar Manusia dan Manajemen Sistem  Birokrasi.


PEMBAHASAN 

Manajemen pembelajaran merupakan proses pendayagunaan seluruh komponen  yang saling berinteraksi (sumber daya pengajaran) untuk mencapai tujuan program  pengajaran. Adalima langkah besar dalam rangka pemenuhan target kegiatan  manajemen pembelajaran, antara lain: 1) manajemen ‘atmosfir’ pembelajaran; 2)  manajemen tugas ajar; 3) manajemen tugas ajar dalam domain kognitif dan afektif; 4)  manajemen penyajian bahan pembelajaran; dan 5) manajemen lingkungan  pembelajaran. Beberapa bagian terpenting dari manajemen pembelajaran tersebut  antara lain: 1) penciptaan lingkungan belajar; 2) mengajar dan melatihkan harapan  kepada peserta didik; 3) meningkatkan aktivitas belajar; dan 4) meningkatkan disiplin  peserta didik. 

Manajemen pembelajaran (perkuliahan) merupakan cara kerja menyusun  rangkaian kerja pembelajaran yang terukur, sistematis, dan ilmiah. Pembelajaran di  perguruan tinggi merupakan kegiatan belajar yang diikuti oleh dosen dan mahasiswa  secara efektif dan efisien dalam pencapaian suatu tujuan.Hal tersebut penting  dikerjakan dengan profesional karena yang dihadapi oleh dosen adalah mahasiswa  yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi, otokritik yang tajam, serta  penalaran yang rasional. Keberhasilan pembelajaran dapat terwujudkan melalui dengan proses kerja manajemen yang tepat dan benar. 

Model manajemen pembelajaran berbasis masalah dapat dideskripsikan ke dalam  pemetaan fungsi manajemen pembelajaran, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan  evaluasi.Fungsi manajemen pembelajaran diadaptasikan dengan pembelajaran  berbasis masalah dan merujuk kepada kurikulum yang dimiliki oleh program studi. 

Kegiatan perencanaan pembelajaran merumuskan perangkat pembelajaran  dengan melihat aspek profil lulusan, learningoutcomes, deskripsi mata kuliah, strategi  pembelajaran, dan penilaian.Kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang didalamnya  terdapat tiga tahapan kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan  akhir.Kegiatan awal meliputi absensi, apersepsi, motivasi, dan orientasi; kegiatan  inti meliputi eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi; dan kegiatan akhir sebagai penutup  meliputi konklusi dan evaluasi. Selanjutnya, kegiatan evaluasi pembelajaran meliputi  penilaian proses dan produk (akhir).

Berdasarkan sejarahnya, lembaga Pendidikan islam khususnya pesantren dan  madrasah itu tumbuh dari bawah dari gagasan tokoh-tokoh agama setempat. Berawal  dari pengajian di rumah kemudian mendirikan musholla/masjid, madrasah diniyah,  bahkan mendirikan pesantren dan madrasah. Sebagian tumbuh dan berkembang dari 

kecil dan kondisinya serba terbatas. Dalam perkembangan di antara lembaga  Pendidikan islam tersebut ada yang terus tumbuh dan berkembang dengan pesat atau  mengalami continuous quality improvement, ada juga yang jalan ditempat dan ada  pula yang berguguran. Bagi lembaga pendidikan islam yang harus berkembang  umumnya didukung oleh usaha-usaha lain yang bersifat profit seperti pertanian,  percetakan industri jasa dan lain sebagainya. 

Sejak pengaruh era globalisasi, kesadaran, kesadaran umat untuk meningkatkan  mutu Lembaga Pendidikan islam mulai bangkit dimana-mana dan beberapa di  antaranya telah mampu menjadi sekolah unggul atau sekolah yang efektif (effective  school). Yang menjadi persoalan adalah model manajemen yang bagaimana yang  tepat bagi Lembaga Pendidikan islam yang memiliki mutu tinggi dan berkarakter  islami. Adapun model-modelnya diantaranya:  

1. Model manajemen bernuansa LPI Bernuansa Entrepreneurship 

Model ini merupakan pola manajemen LPI yang dapat memberikan nilai  tambah. Yang mana seorang entrepreneur adalah seorang yang menyukai  perubahan, menciptakan nilai tambah, memberikan manfaat bagi dirinya dan orang  lain. Selain itu seorang manajer LPI yang entrepreneur memiliki karakter yang  berani mengambil resiko, menyukai tantangan, hambatan bahkan ancaman, punya  visi jauh ke depan dan selalu berusaha memberikan yang terbaik (Syafaruddin,  2005). 

2. Model Manajemen LPI Berbasis Masyarakat 

Model ini merupakan pola manajemen LPI yang dapat menjaga hubungan baik  dengan masyarakat sekitar. Berdasarkan “Data EMIS Kementerian Agama  menunjukkan 90% madrasah berstatus swasta dan 100 % pesantren adalah swasta”.  Ini berarti bahwa lembaga pendidikan Islam adalah lembaga milik masyarakat, 

atau bisa dikatakan “dari, oleh dan untuk masyarakat”. Konsep Manajemen LPI  berbasis sekolah (Management Based School) dan pendidikan berbasis masyarakat  (Society Based Education) dalam konteks otonomi daerah, lahir karena dilandasi  oleh kesadaran bahwa masyarakat punya peran dan tanggung jawab terhadap  lembaga pendidikan di daerah nya di samping sekolah dan pemerintah. 

3. Model Manajemen LPI Berbasis Masjid 

Embrio pendidikan Islam adalah Masjid. Manajemen Lembaga pendidikan  Islam yang berbasis masjid adalah manajemen yang dijiwai oleh nilai dan  semangat spiritual, semangat berjamaah, semangat ikhlas (murni karena Allah) dan  semangat memberi yang hanya berharap pada ridho Allah. Proses pembelajaran  yang integratif dengan masjid memberikan nuansa religius yang kental dalam  penanaman nilai-nilai religius maupun praktek langsung pengalaman beragama.  

Berdasarkan deskripsi model-model diatas, maka dapat disintesiskan bahwa  Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dapat memadukan ketiga model manajemen  tersebut karena ketiga model tersebut bersesuaian secara filosofis, teoritis dan  empiris 

KESIMPULAN 

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Lembaga Pendidikan  Islam (LPI) Sebagai wadah pembelajaran Pendidikan Islam harus dikelola secara  efektif dan efisien dengan tetap berpijak pada ajaran Islam, sehingga peran LPI  signifikan dalam membangun pribadi-pribadi dengan kemampuan intelektual yang  mumpuni, karakter keimanan yang tangguh, serta akhlak mulia. Dengan  kepribadian tersebut maka mereka mampu menghadapi tantangan global.  

Dalam merespon tantangan era globalisasi ini, Lembaga pendidikan Islam  seharusnya tetap memberikan respon positif dan solutif tanpa mengurung diri, tetap  inklusif dengan tanpa meninggalkan karakter dan basic yang dimilikinya. Lembaga  Pendidikan Islam memang perlu melakukan penggabungan berbagai model  manajemen dan menerapkan strategi manajemen baik secara umum maupun secara  khusus yang dikenal dengan istilah manajemen strategik (management strategic)


DAFTAR PUSTAKA 


Chotimah, C., & Fathurrohman, M. (2014). Komplemen Manajemen Pendidikan Islam:  Konsep                     Integratif Pelengkap Manajemen Pendidikan Islam.Yogyakarta: Teras. 

Fathurrohman, M. (2012). Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan  Islam:                             Peningkatan Lembaga Pendidikan Islam Secara Holistik (Praktik dan  Teoritik). Yogyakarta: Teras 

Nata, A. (2010). Ilmu Pendidikan Islam . Jakarta: Kencana Prenada

Syafaruddin. (2005). Manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press 

Husaini Usman. 2008. Manajemen Teori Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi  Aksara.


Subscribe to receive free email updates: