MODEL-MODEL PENDEKATAN PEMBELAJARAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


 MODEL-MODEL PENDEKATAN PEMBELAJARAN DI LEMBAGA 
 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


    
    

PENDAHULUAN 

        Pada dasarnya setiap orang menginginkan anak yang berperilaku yang  baik. Seorang anak adalah amanat dari Allah Swt yang diperintahkan kepada  semua orang tuanya untuk dididik dan dirawat dengan baik. Pada era zaman  sekarang ini, karakter peserta didik perlahan mulai menurun, Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu berasal dari faktor keluarga, sekolah,  lingkungan maupun dari diri sendiri. Akan tetapi ada kenyataan saat ini tidak  semua anak tidak dapat melewati proses perkembangan dengan baik dan ada  beberapa faktor dari keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat yang  mempengaruhi perilaku dalam hidupnya.  

        Banyak anak remaja muslim yang masih kurang pemahaman tentang  ilmu agama. Banyak faktor dalam hal ini seperti orang tua yang  menyekolahkan anak di lembaga formal dengan harapan menjadi anak yang  sukses akan tetapi mereka lupa dengan pengetahuan agamanya. Remaja zaman  sekarang banyak sekali yang tidak mencerminkan nilai moral dan akhlak  sebagai seorang muslim. Dapat dilihat dari lingkungan masyarakat moral  remaja saat ini semakin banyaknya yang merosot, minimnya pengetahuan agama

        Hal ini tidak terlepas dari pengaruh budaya luar yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Indonesia tanpa adanya reduksi yang baik, sehingga  budaya bernilai buruk berubah menjadi budaya rutinitas yang kemudian dianggap sebagai budaya trend, oleh kalangan milenial saat ini. Hal inilah  yang juga menjadi penyebab degradasi moral di kalangan generasi muda  milenial bangsa ini. 

        Oleh karena itu dalam konteks ini peran keluarga sangat penting  untuk mendukung pendidikan peserta didik agar terciptanya karakter dan  akhlak yang lebih baik. Sekolah juga merupakan faktor penting yang tidak  lepas dari pembentukan karakter, karena di sekolah pada hakikatnya  mengajarkan, membimbing serta mengawasi dan menciptakan peserta didik  menjadi seseorang yang berkarakter mandiri,beriman, serta dapat  bertata krama yang baik dan beretika. Karena di suatu sekolah juga  mempunyai tahap-tahap nya seperti bertahap,bertingkat berlanjut sehingga  peserta didik kelak dapat menjadi orang yang berguna bagi agama,bangsa  dan negara serta dapat meraih cita-cita yang diinginkan. 

        Selain itu lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh terhadap  perkembangan karakter maupun akhlak peserta didik. Seperti contoh jika  suatu keluarga berada di lingkungan tidak baik otomatis keluarga tersebut  dapat terpengaruh oleh lingkungan yang berada di sekitarnya seperti contoh  lingkungan yang banyak kenakalan remaja,narkoba maupun tindak  kriminal. Jadi, diharapkan untuk keluarga dapat berperan aktif dalam  membina maupun mendidik anaknya agar dapat berakakter yang baik dan  bisa menerapkanya. 

        Diri sendiri juga faktor penting yang mempengaruhi pembentukan  karakter sehingga kita harus dapat memilah mana yang baik dan mana yang  buruk untuk peserta didik, oleh karena itu hendaknya peserta didik  meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan yang maha esa dan selalu ingat  maupun patuh terhadap perintah dari orang lain


PEMBAHASAN 

A. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam 

            1. Pengertian Model Pembelajaran PAI  

Era globalisasi membawa dampak yang signifikan terhadap  perubahan perubahan tata nilai kehidupan masyarakat. Salah satu bentuk perubahan  tata nilai tersebut seperti diungkapkan Naisbitt dan Aburdene dalam Megatrends  2000 adalah "lemahnya keyakinan keagamaan, sikap individualistis, materialistis  dan hedonistis". Keadaaan ini berlawanan dengan ajaran Islam sekaligus tidak  mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional yaitu membangun manusia  Indonesia seutuhnya yang cerdas dan berakhlak mulia. 

         Model pembelajaran merupakan suatu rencana mengajar yang  memperhatikan pola pembelajaran tertentu. Model-model pembelajaran  berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik.  Keberhasilan pembelajaran ditentukan banyak faktor diantaranya adalah pendidik.  Pendidik memiliki kemampuan dalam proses pembelajaran yang berkaitan erat  dengan kemampuannya memilih model pembelajaran yang dapat memberi ke 

efektifan kepada siswa (Isjoni dan Ismail, 2008) 

 Untuk membelajarkan peserta didik sesuai dengan cara-gaya belajar mereka  sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model  pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (pendidik) harus ingat bahwa tidak ada  model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena  itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan  kondisi peserta didik, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan  kondisi pendidik itu sendiri. 

Pendidik yang profesional dituntut mampu mengembangkan model  pembelajaran, baik teoritik maupun praktek, yang meliputi aspek-aspek, konsep,  prinsip, dan teknik. Memilih model pembelajaran yang tepat merupakan  persyaratan untuk membantu peserta didik dalam rangka mencapai tujuan  pendidikan. Model pembelajaran berpengaruh secara langsung terhadap  keberhasilan belajar peserta didik. Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang dipergunakan  sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran.  Menurut Brings model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk  mewujudkan suatu proses seperti penilaian suatu kebutuhan pemilihan media dan  evaluasi (Muhaimin, 2002


2. Model-model pembelajaran PAI 

a. Model Proses Informasi 

Model ini berdasarkan teori belajar kognitif. Model tersebut berorientasi  pada kemampuan peserta didik memproses informasi dan sistem-sistem yang dapat  memperbaiki kemampuan tersebut. Pemrosesan informasi menunjuk pada cara cara mengumpulkan/menerima stimulus dari lingkungan, mengorganisasi data,  memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, dan pemecahan masalah, serta  menggunakan simbol-simbol verbal dan non verbal. 

b. Model Personal  

Model personal yaitu model yang lebih menekankan pada kegiatan peserta  didik untuk mengembangkan diri secara optimal. Peserta didik dibimbing untuk  berfikir kritis yang merupakan dasar-dasar berfikir ilmiah. Model pendekatan ini  merupakan pendekatan pendidikan modern dengan menggunakan metode diskusi  dan pemberian tugas.dalam pendekatan ini pendidik lebih berperan sebagai  pembimbing dan narasumber. 

c. Model Interaksi Sosial  

Model interaksi sosial adalah suatu model pembelajaran yang beranjak dari pandangan bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari realitas kehidupan, individu  tidak mungkin terlepas dirinya dari interaksi dengan orang lain.17 Rumpun model  ini mengutamakan hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain, dan  memusatkan perhatiannya kepada proses dimana realita yang ada dan dipandang  sebagai suatu negosiasi sosial (sosial negotiated). 

Model ini menekankan individu untuk berhubungan dengan orang lain,  perbaikan proses-proses demokratis dan perbaikan masyarakat, kendatipun titik  beratnya pada hubungan social namun tidak berarti merupakan satu-satunya tujuan  yang paling penting. Titik berat ini hanya menunjukan bahwa hubungan sosial  sebagai suatu domain yang lebih penting. Model ini bermula dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial, oleh karena itu model ini menekankan pada  pembentukan dan pengembangan kemampuan peserta didik untuk berinteraksi  sosial, mengembangkan sikap dan perilaku demokratis dengan masyarakat, gotong  royong, kerjasama yang saling memberi manfaat. Metode yang digunakan dapat  berupa metode diskusi, kerja kelompok, pemberian tugas, problem solving, role  playing, sosiodrama,dan sebagainya.  


d. Model Tingkah Laku 

        Model tingkah laku yaitu model pendidikan untuk membentuk tingkah laku  baru yang dikehendaki. Model ini merupakan penerapan dari teori behaviorisme  yang menyatakan bahwa perilaku manusia itu dikehendaki oleh stimulus dan respon  yang diterimanya. Dalam praktek pendidikan pendidik memberikan respon dengan  perilaku belajar, dan ini berulang-ulang dengan reinforcement (penguatan) hingga  terbentuknya perubahan perilaku. model pembelajaran ini dibangun atas dasar teori  yang umum, yaitu kerangka teori perilaku. Belajar tidak dipandang sebagai sesuatu  yang konkret dan dapat diamati  

Dalam model pembelajaran ini, peserta didik diarahkan kepada suatu pola  belajar yang lebih berfokus pada hal yang spesifik. Berkaitan dengan hal ini,  pemberian pelajaran akhlak tidak hanya sekedar menyuruh pada peserta didik untuk  menghafalkan nilai-nilai normatif, akan tetapi, akhlak harus diajarkan sebagai  perangkat sistem yang saling berkaitan antara teks dan konteks. 


3. Problem dalam Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

        Dalam mengembangkan pembelajaran PAI bisa menggunakan model model yang ada, atau dengan memadukan atau dengan mengembangkan model  pembelajaran sendiri. Pemilihan dan penerapan suatu model pembelajaran untuk  mengembangkan model pembelajaran PAI, harus disesuaikan kebutuhan  pembelajaran PAI, kondisi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang diharapkan.  Upaya untuk mengkaji kembali pelaksanaan pembelajaran PAI di lembaga  pendidikan formal terutama, semakin mendesak apabila dikaitkan dengan  kenyataan di lapangan yakni seperti; adanya berbagai krisis kepercayaan yang  ditandai munculnya ketegangan konflik di beberapa daerah, dan Krisis akhlak yang  ditandai dengan semakin banyaknya kejahatan, baik berupa tindak kekerasan seperti; tawuran, penyalahgunaan narkoba dan lain-lain yang selalu meningkat setiap  tahunnya 

Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya peranan dan efektifitas  pendidikan agama Islam dalam membentuk peserta didik yang beriman dan  bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia adalah: 

1. Model pembelajaran Pendidikan Agama Islam selama ini dilaksanakan  menggunakan pendekatan pembelajaran yang kurang sesuai dengan tujuan  yang hendak dicapai. Persoalan-persoalan yang dihadapi lembaga  pendidikan Islam adalah rendahnya kualitas pelayanan pendidikan. Oleh  karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut Pendidikan Agama Islam  harus mampu menata aspek-aspek dan model model pembelajaran  Pendidikan Agama Islam dengan cara memperkuat dan memperjelas  Pendidikan Agama Islam yang telah ditetapkan 

2. Model pembelajarannya bersifat konvensional yakni lebih menekankan  pada pengayaan pengetahuan (kognitif pada tingkat yang rendah).  Pengembangan model pembelajaran tidak terlepas dari pemahaman  pendidik terhadap karakteristik peserta didik sebagai mana pula di dalam  pengimplementasian prinsip-prinsip belajar yang telah disiapkan oleh  pendidik. Demikian pula tidak dapat dilepaskan dari karakteristik materi  pelajaran, tujuan belajar yang ingin dicapai, kondisi kelas maupun sarana  dan prasarana dan fasilitas belajar. 

3. Solusi yang Ditempuh dalam Model Pembelajaran Pendidikan Agama  Islam 

Pendidikan agama Islam yang diselenggarakan dengan baik, diharapkan  para peserta didik akan dapat menghindari sifat-sifat tercela tersebut. Peran  Pendidikan Agama Islam diharapkan dapat mengatasi dampak negatif dengan  menggunakan berbagai model dan strategi yang dapat menjawab tantangan  tersebut. Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab instansi formal namun  pendidikan menjadi tanggung jawab semua kalangan dari yang paling dasar orang  tua, keluarga, lingkungan, masyarakat dan negara. Dalam mengkaji Pendidikan  Agama Islam yang dapat meningkatkan kecerdasan kognitif, afektif dan  psikomotorik peserta belajar tidak dapat dilepaskan dengan unsur- unsur seperti: pendidik, peserta didik, kurikulum, lingkungan, serta model pembelajaran yang  dipilih oleh pendidik. 

Tujuan Pendidikan Agama Islam tidak akan mungkin tercapai kecuali  materi pendidikan yang tertuang dalam tujuan Pendidikan Islam dapat diterima baik  oleh seorang peserta didik. Materi pendidikan harus mengacu kepada tujuan  pendidikan islam. Oleh karena itu dalam hal ini mempunyai peran yang sangat  penting untuk menyampaikan materi pelajaran. Pendidik yang bertanggung jawab  atas tugasnya, tidak akan melepaskan diri dari keterkaitan yang erat antara tujuan  dan materi pendidikan, karena keduanya tidak mungkin terpisahkan.  

Maka tujuan pendidikan yang telah dirumuskan akan memberi  kemungkinan lebih mudah untuk bisa dicapai sebagaimana yang telah diharapkan.  Pendidik yang profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan  tanggung jawab sebagai pendidik kepada peserta didik, orang tua, masyarakat,  bangsa, negara, dan agamanya. 

Model pembelajaran pendidikan Islam hendaknya disesuaikan dengan  peserta didiknya, dan pendidik lebih inovatif dalam melakukan proses belajar  mengajar. Untuk menghadapi era globalisasi yang penuh dengan persaingan dan  ketidakpastian, dibutuhkan guru yang visioner dan mampu mengelola proses  belajar mengajar secara efektif dan inovatif 

Model-model pembelajaran Pendidikan Agama Islam sudah saatnya  direformasi karena adanya pergeseran nilai dan perubahan yang sangat cepat dalam  bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.Penggunaan model pembelajaran yang  tepat dapat mendorong tumbuhnya rasa senang peserta didik terhadap  pembelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasi dalam mengerjakan  tugas. 

Untuk keperluan pembelajaran dalam konteks pemberian pengalaman  belajar, maka model pembelajaran yang monoton yang terpusat pada guru yang  selama ini berlangsung atau terjadi di kelas sudah saatnya diganti dengan model  pembelajaran yang memungkinkan siswa 

Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan pendidik  untuk mengembangkan model pembelajaran yang berorientasi meningkatkan  intensitas keterlibatan peserta didik secara efektif dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk  menciptakan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan  aktif dan menyenangkan sehingga peserta didik dapat meraih hasil belajar dan  prestasi yang optimal. 

Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif maka  setiap pendidik harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan  konsep dan cara-cara mengimplementasikan model-model pembelajaran tersebut  dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif memiliki keterkaitan  dengan tingkat pemahaman pendidik terhadap perkembangan dan kondisi peserta  didiknya. Tanpa pemahaman terhadap kondisi model yang dikembangkan pendidik  tidak dapat meningkatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran, dan  akhirnya tidak berperan besar dalam pencapaian peserta didik. 


PENUTUP 

A. Kesimpulan 

         Model pembelajaran merupakan suatu rencana mengajar yang  memperhatikan pola pembelajaran tertentu. Model-model pembelajaran  berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik.  Keberhasilan pembelajaran ditentukan banyak faktor diantaranya adalah pendidik.  Pendidik memiliki kemampuan dalam proses pembelajaran yang berkaitan erat  dengan kemampuannya memilih model pembelajaran yang dapat memberi ke 

efektifan kepada siswa  

     Untuk membelajarkan peserta didik sesuai dengan cara-gaya belajar  mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai  model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (pendidik) harus ingat bahwa tidak  ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh  karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan  kondisi peserta didik, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan  kondisi pendidik itu sendiri. Pendidik yang profesional dituntut mampu mengembangkan model  pembelajaran, baik teoritik maupun praktek, yang meliputi aspek-aspek, konsep,  prinsip, dan teknik. Memilih model pembelajaran yang tepat merupakan  persyaratan untuk membantu peserta didik dalam rangka mencapai tujuan  pendidikan. Model pembelajaran berpengaruh secara langsung terhadap  keberhasilan belajar peserta didik. 

Daftar Pustaka 

Isjoni, Ismail, “Model-Model Pembelajaran Mutakhir Perpaduan Indonesia Malaysia”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008) 

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam. (Bandung : Remaja Rosdakarya 2002) Ismail, “Model-Model Pembelajaran Mutakhir”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar,  2008) 


Subscribe to receive free email updates: